Kamis, 23 September 2010

Sejarah Singkawang

Singkawang salah satu kota yang terletak di Propinsi Kalimantan Barat sejak dulu dikenal sebagai daerah tujuan wisata
masyarakat Kalimantan Barat. Menurut Versi masyarakat Tionghua dari suku Khek/Hakka kata Singkawang berasal dari
kata Sau Kew Jong berarti kota yang terletak diantara laut, muara, gunung dan sungai. Tidaklah berlebihan masyarakat
Tionghua menyebutnya demikian karena secara geografis kota Singkawang sebelah barat berbatasan dengan laut
Natuna, sebelah timur dan selatan berbatasan dengan gunung Raya, Pasi, Poteng, Roban, sedangkan didalam kota
mengalir sungai Singkawang yang bermuara ke laut Natuna. Dalam perkembangan sejarah Singkawang merupakan
wilayah Kerajaan Sambas, ketika era penambangan emas di Monterado sedang jaya, banyak pekerja didatangkan dari
daratan China. Sebelum para pekerja tambang itu ke Monterado terlebih dahulu beristirahat di Singkawang untuk
meneruskan perjalanannya, sebaliknya para pekerja yang telah lama bekerja dipertambangan akan beristirahat di
Singkawang. Konon kata Monterado berasal dari kata Mount Eldorado yaitu ketika demam emas melanda Amerika dan
pada saat yang bersamaan di wilayah kerajaan Sambas juga terjadi penambangan emas sehingga kata Mount Eldorado
dalam lidah masyarakat lokal diucapkan Monterado. Singkawang menjadi ibukota Kabupaten Sambas untuk waktu yang
cukup lama. Ketika kabupaten Sambas di mekarkan Singkawang menjadi bagian Kabupaten Bengkayang. Dengan
Undang-undang nomor 12 tahun 2001 secara resmi kota Singkawang terbentuk. Masyarakat Singkawang begitu
heterogen sehingga tidaklah mengherankan jika Singkawang dikenal sebagai kota multi etnis. Dari berbagai etnis yang
ada, maka budaya dan tradisi Etnis Tionghoa, Melayu dan Dayak begitu mewarnai kehidupan kota Singkawang. Kota
Singkawang juga dikenal sebagai Hongkongnya Indonesia atau kota seribu Vihara karena etnis Tionghoa mencapai 42
% dari jumlah penduduk kota Singkawang sehingga nuansa oriental begitu kental terasa. Demikian juga dalam
berkomunikasi dalam kehidupan sehari-hari antar mereka menggunakan bahasa Khek/Hakka sehingga tak heran jika
berada di Singkawang sepertinya kita berada disalah satu sudut kota Hongkong. Dan Salah satu budaya masyakat
Tionghoa adalah perayaan Cap Go Meh yang dirayakan setiap setiap hari ke 15 tahun baru Imlek yang begitu
sensasional dengan nuansa magis karena adanya akulturasi dengan budaya masyarakat lokal. Letak Geografis dan
sejarahnya yang unik merupakan daya tarik wisatawan baik lokal maupun mancanegara datang ke Singkawang untuk
melihat keindahan alam maupun tradisi budaya masyarakatnya yang tidak terdapat didaerah lain di Indonesia. Sejarah
Pembentukan Pemerintah Kota Singkawang
Kota Singkawang semula merupakan bagian dan ibukota dari wilayah Kabupaten Sambas (UU. Nomor : 27 Tahun
1959) dengan status Kecamatan Singkawang, dan pada tahun 1981 Kota ini menjadi Kota Administratif Singkawang (PP
Nomor 49 Tahun 1981), Kota ini juga pernah diusulkan menjadi Kotamadya Daerah Tingkat II Singkawang yaitu melalui
usul pemekaran Kabupaten Sambas menjadi 3 (tiga) daerah Otonom. Namun Kotamadya Daerah Tingkat II Singkawang
belum direalisir oleh Pemerintah Pusat, waktu itu hanya Pemerintah Kabupaten Daerah Tingkat II Bengkayang yang
disetujui, sehingga wilayah Kota Administratif Singkawang menjadi bagian dari Pemerintah Kabupaten Daerah Tingkat II
Bengkayang (UU Nomor : 10 Tahun 1999), sekaligus menetapkan Pemerintah Kabupaten Daerah Tingkat II Sambas
beribukota di Sambas.
Kondisi tersebut tidaklah membuat surut masyarakat Singkawang untuk memperjuangkan Singkawang menjadi Derah
otonom, aspirasi masyarakat terus berlanjut dengan dukungan Pemerintah Kabupaten Sambas dan semua elemen
masyarakat Seperti : KPS, GPPKS, Kekertis, Gemmas, Tim Sukses, LKMD, Para RT serta organisasi lainnya. Melewati
jalan panjang melalui penelitian dan pengkajian terus dilakukan oleh Gubernur Kalimantan Barat maupun Tim
Pemekaran Kabupaten sambas yang dibentuk dengan Surat Keputusan Bersama antara Bupati Sambas dan Bupati
Bengkayang No. 257 Tahun 1999 dan No. 1a Tahun 1999 tanggal 28 September 1999, serta pengakjian dari Tim
CRAIS, Badan Petimbangan Otonomi Daerah. Akhirnya Singkawang terwujud menjadi Daerah Otonom berdasarkan
Undang-Undang Nomor : 12 Tahun 2001 tentang Pembentukan Kota Singkawang, diresmikan pada tanggal 17 Oktober
2001 di Jakarta oleh Menteri Dalam Negeri dan otonomi Daerah atas nama Presiden Republik Indonesia. Arti Lambang
Kota Singkawang Lambang Kota Singkawang diambil dari berbagai potensi, dengan makna yaitu : a. Makna Warna :
- Merah : Keberanian
- Putih : Kesucian
- Hijau : Kesuburan
- Biru : Ketentraman
- Kuning : Keluhuran dan Keagungan b. Makna Gambar :
- Bintang, Ketuhanan Yang Maha Esa
- Padi dan Kapas, Kesejahteraan dan Kemakmuran, merupakan tujuan seluruh masyarakat Kota Singkawang
- Rantai dan Roda Gigi, Persatuan dan Kesatuan dalam roda pembangunan
- Gunung, Keteguhan dan Kekokohan
- Laut, Wawasan dan Pandangan yang luas
- Tugu, Tonggak bersejarah perjuangan Kota Singkawang
- Pita Bertuliskan “Kota Singkawang”, melambangkan identitas Kota Singkawang
- Jumlah Padi dan Kapas serta Angka 2001, melambangkan Peresmian Pembentukan Kota Singkawang tanggal 17
Oktober 2001, yang dijadikan Hari Jadi Kota Singkawang
- Buku, melambangkan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi serta Peraturan perundang-undangan
- Tulisan “Bersatu Untuk Maju”, melambangkan Motto Kota Singkawang
Humas & Protokol Pemerintah Kota Singkawang
Patung Naga..

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar